Number 2

Surat kedua – terakhir untuk sementara.

A year ago now, since you came to me in August to ask about film cameras. For the most part, you “succeeded” in making me “yours”. My mind travels to the thought of being with you and no one else. My fingers quiver at the remembrance of brushing against your skin and no one else’s. Your love (or desire? Whichever is more bearable for you) was pure in the most devastating way: weak and unwilling. Enough to make me hopeful. Never enough to make it real.

B324E7FF-9A09-4510-8715-0BCDDC00C691
Ruang Seduh / Nikon FM – Fuji Industrial 100

A week ago you confessed to me of all your stories. Finally letting me know that you were just the same. Shallow, easy and without faith. Only a lot shyer than I would like, but still carrying a broken home.

You remind me of the last person I loved more than I care to admit. Perhaps it had taken me this long to admit because I was afraid that it was true. Afraid that you would eventually hurt me too. But alas, you do. And alas, you did. One at a time. Only realising what you have done once I stop responding – cutting things in between. And once you come back, again, I stay. And once you come back, again, you disappear.

Sepertinya, kita tidak pernah benar-benar selesai dengan kita.

Mengulang adegan jatuh dan berpura-pura tidak ketika sadar betapa bodohnya jatuh kita. As if falling for one another was so sinful. As if wanting to be together was so impossible.

FB13740E-6904-4838-96F8-7C8799EF17A9
Masagi Koffee / Nikon FM – Fuji Industrial 100

Tapi mungkin, memang ini yang terbaik untuk sekarang. Untuk tidak jatuh terlalu dalam. Sebatas menyentuh nama dan tanggal lahir. Cerita tentang teman namun tidak pernah saling mengenalkan. Bertemu untuk berbincang dengan kata-kata yang sudah dipersiapkan dan tidak lebih dari itu. Mungkin, waktu untuk bersama bukan sekarang

– jika memang kita dituliskan untuk bersama.

Langit yang Diam

4 bulan. Aku memiliki 4 bulan saja sebelum aku harus berangkat dan tinggal di negara asing. 4 bulan sampai semua rutinitas, tempat-tempat yang aku sering kunjungi, dan orang-orang yang aku suka temui, tidak bisa kusentuh untuk satu setengah tahun —atau lebih? Aku belum tahu. Hal-hal yang telah kususun untuk hampir 2 tahun di kota Bandung ini akan segera menghilang. Dan aku tidak bisa mengembalikkannya.


Berbincang dengan Langit
—M. Aan Mansyur

2.
“kupikir lebih indah membaca
bibirmu ketika kau tidak
mengucapkan apa-apa. aku

semata mau melihat benakmu
bergetar—merah muda
dan tidak berdaya.

seperti sebatang leher
dan kehendak. seperti sepasang
mata dan tempat sembunyi.”

Olympus Superzoom, Portra 400 by Balthazar
Olympus Superzoom, Portra 400 by Balthazar

Cinta,

izinkan aku untuk pamit lewat pisah. Untuk melupakanmu satu persatu lebih dahulu. Agar kesedihan menjalankan hari-hari tanpamu tidak akan datang kepadaku ketika aku sudah tidak bisa apa-apa tentangya. Agar aku bisa kembali ke sebelum aku pergi dan bukan hanya kamu yang menghuni pikiranku. Karena aku ingin memiliki tempat untuk mengingat orang lain. Dan karena aku tidak ingin dipaksa untuk merasakan kehilangan, as I have always been, tapi karena aku memilih untuk merasakannya.

Honey

Keywords: post-midterms, clumsy, morning coffee, returning to film, honey, birthdays, drowsy —rest, baby.


Within numbered days, I will soon turn 20. But I’ve never liked the number 20. I’ve always instead, since the day I fell in love with a boy in 6th grade whose birthday I thought was on the 19th of August, liked the number 19. As evident from my primary email addressAnd in my turning 19, I had begged God to make it my most endearing tragedy. Tragedy in the way that it teaches me to be kinder and more forgiving only. And I was met with very endearing tragedies, you see.

Bukan Untukmu

Medice, cura te ipsum.

Aku ingin menjadi rumahmu. Tempat kembali dan tempat yang kan kau rindu. Aku ingin ingin kau menatap mataku dan tidak berpaling –seluruh kekhawatiranmu membungkam dan runtuh.

Aku akan menunggu —sampai kapan? Aku tidak tahu— untuk memberimu kehangatan: menghapus kelelahan melewati pelukan. Juga ciumanku, sebuah kutukan yang tak henti menghantui pikiranmu.

Aku butuh kehadiranmu di sela sela waktu yang disisakan oleh jariku. Aku ingin menemukanmu menunggu untuk ditubuhi dan dikasihi.

Bisakah?

Singgah untuk Pergi

Terkadang aku merasa berdosa karena telah menggenggam dan membolehkan seseorang yang tidak ku cinta untuk bersama denganku. Bertemu untuk mendekapnya hanya karena aku sedang ingin melupakan kehiruk-pikuknya dunia. Tidak ada alasan. Memang aku yang kurang ajar. Jika memungkinkan, aku ingin ia mengabaikanku: berhentilah menemaniku karena apapun yang aku sentuh akan berubah dan tersakiti.

Dan jika bukan kamu, aku.


SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

16.
“kau singgah. seluruh penjuru
adalah persimpangan. mengarah
ke tiada—yang banyak.

kau tahu kau mencari seseorang
tapi kau tidak tahu siapa. kau berharap:
ia mencari dan kelak menemukan aku.

kau ingin sendiri. tapi kau tidak sanggup.
kita lahir bersama kesedihan orang-orang
yang berbahagia sebelum kita.

kini tidak ada yang sungguh. kau tidak
utuh. kau tidak cukup dan kau

lebih”

000026
Taman Sari, Yogyakarta – August 2019 / Olympus Superzoom x Kodak Gold

Kita berdua memiliki ruang di hati untuk orang yang berbeda: orang yang lebih pantas dan cocok akan kekonyolan yang kita miliki. Walau orang bisa berubah (seperti yang kamu bilang) dan cinta seharusnya tidak mendiskriminasi, kita bisa memilih. Dan aku memilih untuk tidak mencintaimu. Atas dasar aku tidak bisa menerimamu, atas dasar kamu bukan rumahku, atas dasar aku menghargaimu sebagai teman lebih dari apapun. Sekian.

Langit yang Basah

Sakit. Aku jatuh sakit semenjak terakhir kali bertemu denganmu. 13 hari mendekati dua minggu. Tidak ada kabar. Aku tidak berani menyentuhmu kembali. Aku yakin –atau telah diyakinkan– bahwa kamu hanya menjadikanku permainan.

And yet,

aku jatuh dan belum sanggup berdiri lagi.
Aku mencintaimu maka dari itu aku akan membiarkanmu pergi.


CIUMAN PERPISAHAN
—M. Aan Mansyur

Tubuhmu pokok pohon paling kuat di hutan. Pohon paling wangi; dahan dan daun-daunmu pelangi. Aku ingin memanjat dan menjatuhkan diri sekali—dan lagi dan lagi. Sepasang matamu buah-buahan, menyihirku jadi bintang padam dan binatang yang melolong siang-malam.

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu saja. Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa jadi lap bagai diri sendiri.

Ciuman itu. Ciuman itu. Aku terbakar jadi abu setiap malam. Tapi—sialan!—kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.

Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium. Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan—