Bibit

Halo,

Apa kabar pagi ini? Sudah bangun kah? Aku ingin membaca tulisan suaramu yang baru saja terlahap tidur—menyapaku dengan sekecup kehangatan yang kan kusimpan sepanjang hari. Jadikan aku orang pertama, jika bukan satu-satunya, yang dapat membayangkanmu melepas selimut dari tubuhmu. Pukul 8 pagi, kamu hendak berdiri namun mimpi dan bantal guling menarik nyawamu kembali.

Agendamu hari ini, kamu bilang, adalah beberapa kegiatan pekerjaan yang kamu tidak sabar untuk selesaikan. Kamu menambah pengantar obrolan hari ini, seperti hari kemarin, dengan sesendok kejengkelan terhadap dunia karena telah memisahkanmu dari kasur. Kamu ingin bisa secepat mungkin kembali menjadi bayi di pelukan sang selimut. Tetapi kamu sadar bahwa dunia tidak berhenti untuk siapapun.

Hari ini aku memilih untuk tidak terusik oleh perkuliahaanku dari negeri sang penjajah. Lelah dengan semua tantangan yang ia bawa dengannya. Sebagai pengganti, aku akan menghabiskan pagi dan siangku bermain dengan kucing di halaman belakang rumah; mengelus kepalanya selagi berbincang mengenai isi hatiku—sebagian dari mana telah mulai ditempati olehmu. Sekali kucingku meninggalkanku, aku akan mencoba menulis sebuah tulisan yang akan membayar hilangnya aku these past few months. Dengan tujuan memberi kabar mengenai dimana aku sekarang.

Izinkan aku meminjam bayanganmu untuk melakukan itu. Kurasa akan lebih mudah berkabar ketika aku memikirkanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup hanya dalam satu bahasa, maafkan aku karena tidak bisa memilih diantaranya.

c302570
Yumaju, circa early 2019 – Nikon FM with Portra 400

Sebelum adanya kamu, let’s take the 12 days in between my birthday and the first days of April, hari hari kujalani dengan upaya besar untuk tidak memikirkan angan yang tersisa dari masa lalu. Khawatir aku akan jatuh kembali dan mengungsikan diri dari dunia untuk tiga hari. Dalam upaya besarku, aku selalu mengalihkan kosongnya kepalaku kepada hal-hal yang kurang penting—shallow things yang tidak akan membawaku kepada gelapnya sang biru (karena seperti yang dikatan, lautan yang lebih gelap ialah lautan yang lebih dalam). Mereka termasuk bahan bahan untuk makan malam yang hampir selalu bergantian antara resep pasta dan rice ball ku; barang-barang yang perlu kubawa dari Upsilon ke tempat tinggal host family pertamaku; dan episode Naruto yang terakhir bermain di layar laptopku.

Kecil, namun mereka sangat membantu dalam mengalihkan perhatian dari masa lalu: tempat yang, walau hanya terbentang jarak 11,000 kilometer dan akan aku “kunjungi” untuk 5 bulan dalam beberapa hari, nampaknya tidak mungkin bisa kembali.

Pada tanggal 31 Maret, aku mulai tinggal dengan sebuah keluarga muda yang baru saja melahirkan anak perempuan kedua mereka. Disana aku menemukan suasana rumah yang jauh lebih damai dibanding tinggal sendiri bersama 6 orang asing lainnya, walau keasingan mereka sudah lama menjadi teman atau bahkan, keluarga. Disana, aku akan tinggal untuk 11 hari sampai akhirnya tugasku selesai dan pesawat membawaku ke Doha lalu ke Jakarta.

Terbaring sesudah kerja keras memindahkan barang dari Upsilon ke Planetenlaan, aku mengizinkan diri untuk merasakan segala kecapaian yang dibawa oleh hari itu. Selesai sudah the last few things I have to do sebelum meninggalkan Belanda. Sekarang, waktunya berhenti mengkhawatirkan masa lalu. Akhirnya, akan ada tempat untukmu.

(cont.)

 

Berhenti

Mengenai rindu: 
untuk Bandung dan Jakarta dan beberapa orang didalamnya.
 
15 Oktober 2019
 
Aku rindu.
Tariklah aku kembali.
Berikan aku masa perkenalan itu.
Agar aku bisa kembali bodoh, kembali belajar hal baru.
 
Kembali mengenalmu,
kembali merasakanmu sebagai seorang yang penuh rasa ingin tahu.
Tidak untuk mengganti,
hanya untuk mengulangi sekali lagi.
 
Hidup di negeri sang penjajah terlalu melelahkan –
terlalu banyak hal yang memintaku tidak berhenti.
Aku hanya ingin beristirahat dan merasakanmu kembali,
untuk dua tahun saja lagi.
 
Berikan aku hujan derasmu,
lambatnya cara bicaramu,
dinginnya wajahmu di pagi hari
dan pelukkanmu yang masih malu.
 
Aku bosan dengan ingatanku tentangmu
yang makin lama makin mengabu.
Cepat undanglah aku kerumahmu.
Aku rindu.

Sebelum Pergi

Waktunya tahun baru, sesaat lagi. Akhirnya akan ada tahun dimana aku jauh darimu. Sebuah alasan untuk tidak menyakitimu lagi. Dan semoga alasan yang sama untuk tidak menyakiti diriku sendiri.

Dari kecil, mamah selalu mengajarkanku tentang Tuhan: menanam kepercayaan atas keberadaanNya, mengenalkanku dengan Maha KuasaNya. Mamah bilang, hanya kepadaNya kita bisa mengeluh — bercerita tanpa merasa kita telah menghabiskan waktuNya. Mungkin memang aku yang sedikit terlalu manusia dan terlalu membutuhkan sesuatu yang bisa meyakinkanku bahwa semuanya telah diatur (hence, akan baik-baik saja). Tetapi, aku senang memiliki Tuhan. Tuhan yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Yang Maha Mengetahui keadaanku dan masa depanku pula, dalam dunia ini maupun dunia nantinya. Rasanya sangat menenangkan untuk berpegang teguh kepadaNya. Aku selalu tahu kemana arah jalan pulang dan untuk siapa aku berlari. Itu semua berkat anugerah iman kepadaNya yang telah Ia berikan kepadaku, lewat mamah seorang (aku hanya berharap Ia tidak akan mencabut itu dariku).

Dan aku beruntung karena Tuhanku adalah Dia: Allah yang Maha Baik. Dalam hal memberi dan dalam hal mengambil. Ia tahu apa yang seharusnya untukku dan apa yang seharusnya tidak. Dan untuk sekarang, entah sampai kapan, sebagian dari apa yang seharusnya bukan untukku adalah dirimu. Sama halnya aku bukan untukmu.

Sakit, tetapi it was necessary for me to see. Karena dalam kehilanganmu dan dalam keputusanku untuk kehilangan orang lain, aku diberikan sesuatu.

Harapan

of learning, of growing, and of finding.

In My Room

‪A month before your birthday
December, 2019‬
 
‪Whatever I do, whatever I say, whatever I feel,‬
won’t matter anymore. So why do I bother‬
anything at all?‬
 
As much as I wish things didn’t happen,‬
they have. This is what has been written‬
and I am utterly incapable of changing them.‬
 
‪Now there is no place for me to run‬
but You. I can only pray that You will‬
‪stop taking people away from me.‬
 
‪But I am learning to trust You.‬
So I will pray that You introduce me‬
to people who will stop leaving.‬

Hanya

Mencintaimu (atau menginginkanmu –whichever is more bearable for you) ialah mencoba untuk mengerti dan memberi. Dan untuk apa jika bukan untuk melihatmu berkembang?
 
Aku semata hanya ingin bisa bersamamu ketika waktu membolehkannya, dan jika semesta mengizinkan kerakusanku, untuk memilikimu sebagai pencinta.
 
Sayang,
aku penakut terhadap orang yang kudambakan.
 
Sekejap lupa cara menulan ludah ketika mendengarmu bicara mengenai kemungkinan-kemungkinan. Menyimpan kabar hari-harimu sebagai bahan bakar api badanku.
 
Sayang,
kau memilih untuk diam.

Debu

Hampa
aku dalam hilangmu.
 
Walau ini yang kuminta. Walau sudah lama persiapan menghadapinya. Walau aku sudah teman lama dengannya (bukan kamu).
 
Hilangnya seseorang dari hidup selalu berhasil membuatku merasa kecil. Entah mau dibagaimanakan lagi, memang aku tidak bisa terbiasa dengannya. Semua orang terlalu berarti bagiku (walau mungkin mereka tidak berat dalam hati).
 
 
selalu menyediakan tempat untuk mereka bersinggah: sebagai teman maupun sebatas kenalan. Bagiku, mengenal orang adalah salah satu keajaiban yang manusia bisa lakukan.
 
Maka dari itu, perginya mereka selalu membuatku sedih. Mereka meninggalkan bekas dimana mereka dulunya berdiri dan tidak pernah menyapunya.
 
Harus aku, sendiri, yang menyapunya.
 
Karena memang pada akhirnya, mereka adalah tamu dan aku pemilik rumah ini.
 
Harus aku,
sendiri yang menyapunya.

c6381
Aksara, and you, on Nikon FM

Number 2

Surat kedua – terakhir untuk sementara.

A year ago now, since you came to me in August to ask about film cameras. For the most part, you “succeeded” in making me “yours”. My mind travels to the thought of being with you and no one else. My fingers quiver at the remembrance of brushing against your skin and no one else’s. Your love (or desire? Whichever is more bearable for you) was pure in the most devastating way: weak and unwilling. Enough to make me hopeful. Never enough to make it real.

B324E7FF-9A09-4510-8715-0BCDDC00C691
Ruang Seduh / Nikon FM – Fuji Industrial 100

A week ago you confessed to me of all your stories. Finally letting me know that you were just the same. Shallow, easy and without faith. Only a lot shyer than I would like, but still carrying a broken home.

You remind me of the last person I loved more than I care to admit. Perhaps it had taken me this long to admit because I was afraid that it was true. Afraid that you would eventually hurt me too. But alas, you do. And alas, you did. One at a time. Only realising what you have done once I stop responding – cutting things in between. And once you come back, again, I stay. And once you come back, again, you disappear.

Sepertinya, kita tidak pernah benar-benar selesai dengan kita.

Mengulang adegan jatuh dan berpura-pura tidak ketika sadar betapa bodohnya jatuh kita. As if falling for one another was so sinful. As if wanting to be together was so impossible.

FB13740E-6904-4838-96F8-7C8799EF17A9
Masagi Koffee / Nikon FM – Fuji Industrial 100

Tapi mungkin, memang ini yang terbaik untuk sekarang. Untuk tidak jatuh terlalu dalam. Sebatas menyentuh nama dan tanggal lahir. Cerita tentang teman namun tidak pernah saling mengenalkan. Bertemu untuk berbincang dengan kata-kata yang sudah dipersiapkan dan tidak lebih dari itu. Mungkin, waktu untuk bersama bukan sekarang

– jika memang kita dituliskan untuk bersama.

Langit yang Diam

4 bulan. Aku memiliki 4 bulan saja sebelum aku harus berangkat dan tinggal di negara asing. 4 bulan sampai semua rutinitas, tempat-tempat yang aku sering kunjungi, dan orang-orang yang aku suka temui, tidak bisa kusentuh untuk satu setengah tahun —atau lebih? Aku belum tahu. Hal-hal yang telah kususun untuk hampir 2 tahun di kota Bandung ini akan segera menghilang. Dan aku tidak bisa mengembalikkannya.


Berbincang dengan Langit
—M. Aan Mansyur

2.
“kupikir lebih indah membaca
bibirmu ketika kau tidak
mengucapkan apa-apa. aku

semata mau melihat benakmu
bergetar—merah muda
dan tidak berdaya.

seperti sebatang leher
dan kehendak. seperti sepasang
mata dan tempat sembunyi.”

Olympus Superzoom, Portra 400 by Balthazar
Olympus Superzoom, Portra 400 by Balthazar

Cinta,

izinkan aku untuk pamit lewat pisah. Untuk melupakanmu satu persatu lebih dahulu. Agar kesedihan menjalankan hari-hari tanpamu tidak akan datang kepadaku ketika aku sudah tidak bisa apa-apa tentangya. Agar aku bisa kembali ke sebelum aku pergi dan bukan hanya kamu yang menghuni pikiranku. Karena aku ingin memiliki tempat untuk mengingat orang lain. Dan karena aku tidak ingin dipaksa untuk merasakan kehilangan, as I have always been, tapi karena aku memilih untuk merasakannya.

Bukan Untukmu

Medice, cura te ipsum.

Aku ingin menjadi rumahmu. Tempat kembali dan tempat yang kan kau rindu. Aku ingin ingin kau menatap mataku dan tidak berpaling –seluruh kekhawatiranmu membungkam dan runtuh.

Aku akan menunggu —sampai kapan? Aku tidak tahu— untuk memberimu kehangatan: menghapus kelelahan melewati pelukan. Juga ciumanku, sebuah kutukan yang tak henti menghantui pikiranmu.

Aku butuh kehadiranmu di sela sela waktu yang disisakan oleh jariku. Aku ingin menemukanmu menunggu untuk ditubuhi dan dikasihi.

Bisakah?

Singgah untuk Pergi

Terkadang aku merasa berdosa karena telah menggenggam dan membolehkan seseorang yang tidak ku cinta untuk bersama denganku. Bertemu untuk mendekapnya hanya karena aku sedang ingin melupakan kehiruk-pikuknya dunia. Tidak ada alasan. Memang aku yang kurang ajar. Jika memungkinkan, aku ingin ia mengabaikanku: berhentilah menemaniku karena apapun yang aku sentuh akan berubah dan tersakiti.

Dan jika bukan kamu, aku.


SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

16.
“kau singgah. seluruh penjuru
adalah persimpangan. mengarah
ke tiada—yang banyak.

kau tahu kau mencari seseorang
tapi kau tidak tahu siapa. kau berharap:
ia mencari dan kelak menemukan aku.

kau ingin sendiri. tapi kau tidak sanggup.
kita lahir bersama kesedihan orang-orang
yang berbahagia sebelum kita.

kini tidak ada yang sungguh. kau tidak
utuh. kau tidak cukup dan kau

lebih”

000026
Taman Sari, Yogyakarta – August 2019 / Olympus Superzoom x Kodak Gold

Kita berdua memiliki ruang di hati untuk orang yang berbeda: orang yang lebih pantas dan cocok akan kekonyolan yang kita miliki. Walau orang bisa berubah (seperti yang kamu bilang) dan cinta seharusnya tidak mendiskriminasi, kita bisa memilih. Dan aku memilih untuk tidak mencintaimu. Atas dasar aku tidak bisa menerimamu, atas dasar kamu bukan rumahku, atas dasar aku menghargaimu sebagai teman lebih dari apapun. Sekian.