Langit Yang Basah

Sakit. Aku jatuh sakit semenjak terakhir kali bertemu denganmu. 13 hari mendekati dua minggu. Tidak ada kabar. Aku tidak berani menyentuhmu kembali. Aku yakin –atau telah diyakinkan– bahwa kamu hanya menjadikanku permainan.

And yet,

aku jatuh dan belum sanggup berdiri lagi.
Aku mencintaimu maka dari itu aku akan membiarkanmu pergi.


CIUMAN PERPISAHAN
—M. Aan Mansyur

Tubuhmu pokok pohon paling kuat di hutan. Pohon paling wangi; dahan dan daun-daunmu pelangi. Aku ingin memanjat dan menjatuhkan diri sekali—dan lagi dan lagi. Sepasang matamu buah-buahan, menyihirku jadi bintang padam dan binatang yang melolong siang-malam.

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu saja. Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa jadi lap bagai diri sendiri.

Ciuman itu. Ciuman itu. Aku terbakar jadi abu setiap malam. Tapi—sialan!—kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.

Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium. Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan—

Wajahmu Berpuisi

namun jiwamu, hina.

Maybe it was the weather, that made me feel so uncared for. Maybe it was how I miss your bed, and the both of us in it. Maybe it was because I miss who I thought you were, and who I thought you could be for me. Maybe it was the lost opportunity to be together.


Aku menemukan fotomu di folder film ke sembilan dan sepuluhku. Fotomu yang kubanggakan ke diriku-sendiri karena hasil bagusnya yang tidak kuharapkan. Sedikit lega memiliki foto itu. Rasanya bagaikan memiliki sebuah bukti bahwa kamu pernah “bersamaku” —no matter how fleeting the entanglements of the encounter were. Karena aku terlalu mudah melupakan dan hanya mengingat dengan tiba-tiba dalam serpihan waktu, aku tidak pernah berani menghapus bekas dan bukti keberadaanmu dari hidupku. Sebegitunya peduli aku tentang pernah adanya kamu. Padahal, aku tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikanmu. Banyak wajah lain yang ku perhatikan di hari itu. Wajahmu bukanlah satu satunya.

Padahal, all I did was play along. 

Penasaran dengan apa yang kau inginkan dari aku dan dengan apa yang kau bisa berikan kepadaku, aku mengikuti irama kekonyolanmu. Hanya untuk mempelajari nantinya bahwa aku seharusnya mengabaikanmu saja. Lagi-lagi, sebuah insignifikan. Mereka yang datang hanya untuk melupakan orang lain yang dulunya tinggal di dalam mereka. Agak kesal. Menjadi sebuah medium. Seakan aku bukan seseorang yang bisa untuk mereka – seakan aku hanyalah tubuh yang sementara.

Alhasil, fotomu yang kubanggakan ini sekarang hidup dan tinggal didalam dua folder film ku. Mereka hidup dan tinggal sebagai sebuah penyelamat sekaligus kutukan bagiku. Kutukan karena dengan foto ini, aku harus ingat akan adanya seseorang sepertimu: seorang pengecut dengan mata yang dapat membuatku lupa akan wajah orang lain tetapi sayangnya hanya mementingkan diri sendiri.

Walau aku tahu bahwa dunia dan seisinya memang tidak pernah diciptakan untuk adil, dalam hal memberi dan dalam mengambil, aku masih heran. Untuk alasan apa dunia mempertemukanku denganmu? Untuk apa ia memberikanku seseorang yang hanya akan ku ingin lupakan dan sakiti jika semesta disisiku? Kehadiranmu hanyalah membuatku jauh lebih tersakiti —aku tidak butuh sesuatu seperti itu. Akan kuingat pertemuan kami sebagai sebuah pelajaran bahwa manusia bisa sekejam itu. Akan kuingat kamu sebagai seseorang yang hanya menghabiskan tempat di dadaku.

Selagi di Paris bulan September kemarin, aku membaca puisi M. Aan Mansyur dan tidak bisa tidak mengingatmu. Ku harap puisi ini suatu hari akan sampai kepadamu. Dan jika waktu dimana kau membacanya akan datang, abaikanlah kata cinta. Karena ini bukan cerita tentangnya.

SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

11.
“tidak ada yang pernah sungguh sanggup
meninggalkan orang yang ia cintai. kau
selalu bebas untuk pergi dan sebab itu
kau memilih tidak ke mana-mana. kita

jadi kekosongan dalam diri orang lain
dan tidak ada yang tahu cara mengisinya
kembali. aku tahu

warna harapan. seperti matamu ketika kau
putus asa tidak bisa menahan aku pergi. tapi

kau tahu, setiap orang keluar dari rumah
sebagai pemancing dan pulang membawa
diri baru yang mudah terpancing.

tidak ada kejujuran. orang-orang tidak suka
kebenaran. mereka lebih senang jatuh cinta
kepada hal-hal ringan dan mudah terbakar.

kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan

kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku

merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh”

Mendengar Namamu

teruntuk seseorang di negara dingin

Aku penasaran.
Were we ever meant for each other?

My lasting infatuation of you stays here,
imprinted within my heart. For many years
I have sacrificed not loving
because I thought I was for you.

But,
were we ever meant for each other?

Does my writing letters of you
and my praying for you mean
that we’ll end up together?

I never come across your mind as a lover now, do I?
Yet, why is it that I’d still choose you and none other?

No matter how far, why is it
that I’m able to convince myself,
still, that you are for me?

img_8495
Mengunjungi Jogja untuk tiga malam

Padahal,
bertemu denganmu saja jarang;
sedikit kesempatan untuk berbincang.
Namun, mengapa aku sangat yakin?

Kamu tahu? Namamu adalah sebuah kata
yang terlanjur rumah bagiku;
dimana namaku tidak bisa
ditemukan di kamusmu.

Aku akan jujur, aku sudah lelah memikirkanmu.
Sudah cukup waktu yang kuhabiskan menunggumu.
Aku ingin mencoba mengenal orang lain,
untuk melupakan “what could have been”.

000016
Jogja – Olympus Superzoom 70G, roll film: Kodak Gold 200

Tidak sulit melupakanmu.
Tidak sulit pula mengabaikan
penasaranku atas kabarmu.

Namun,
setiap namamu disebut,
sedikit demi sedikit,
kamu kembali.

Mengapa harus begini?
Tidakkah cukup, waktu yang
telah ku sia-siakan untukmu?

Berhentilah menghantuiku
agar aku bisa melepaskanmu.

Dan itu lebih baik, bukan?