Sebelum Pergi

Waktunya tahun baru, sesaat lagi. Akhirnya akan ada tahun dimana aku jauh darimu. Sebuah alasan untuk tidak menyakitimu lagi. Dan semoga alasan yang sama untuk tidak menyakiti diriku sendiri.

Dari kecil, mamah selalu mengajarkanku tentang Tuhan: menanam kepercayaan atas keberadaanNya, mengenalkanku dengan Maha KuasaNya. Mamah bilang, hanya kepadaNya kita bisa mengeluh — bercerita tanpa merasa kita telah menghabiskan waktuNya. Mungkin memang aku yang sedikit terlalu manusia dan terlalu membutuhkan sesuatu yang bisa meyakinkanku bahwa semuanya telah diatur (hence, akan baik-baik saja). Tetapi, aku senang memiliki Tuhan. Tuhan yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Yang Maha Mengetahui keadaanku dan masa depanku pula, dalam dunia ini maupun dunia nantinya. Rasanya sangat menenangkan untuk berpegang teguh kepadaNya. Aku selalu tahu kemana arah jalan pulang dan untuk siapa aku berlari. Itu semua berkat anugerah iman kepadaNya yang telah Ia berikan kepadaku, lewat mamah seorang (aku hanya berharap Ia tidak akan mencabut itu dariku).

Dan aku beruntung karena Tuhanku adalah Dia: Allah yang Maha Baik. Dalam hal memberi dan dalam hal mengambil. Ia tahu apa yang seharusnya untukku dan apa yang seharusnya tidak. Dan untuk sekarang, entah sampai kapan, sebagian dari apa yang seharusnya bukan untukku adalah dirimu. Sama halnya aku bukan untukmu.

Sakit, tetapi it was necessary for me to see. Karena dalam kehilanganmu dan dalam keputusanku untuk kehilangan orang lain, aku diberikan sesuatu.

Harapan

of learning, of growing, and of finding.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s