Langit Yang Basah

Sakit. Aku jatuh sakit semenjak terakhir kali bertemu denganmu. 13 hari mendekati dua minggu. Tidak ada kabar. Aku tidak berani menyentuhmu kembali. Aku yakin –atau telah diyakinkan– bahwa kamu hanya menjadikanku permainan.

And yet,

aku jatuh dan belum sanggup berdiri lagi.
Aku mencintaimu maka dari itu aku akan membiarkanmu pergi.


CIUMAN PERPISAHAN
—M. Aan Mansyur

Tubuhmu pokok pohon paling kuat di hutan. Pohon paling wangi; dahan dan daun-daunmu pelangi. Aku ingin memanjat dan menjatuhkan diri sekali—dan lagi dan lagi. Sepasang matamu buah-buahan, menyihirku jadi bintang padam dan binatang yang melolong siang-malam.

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu saja. Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa jadi lap bagai diri sendiri.

Ciuman itu. Ciuman itu. Aku terbakar jadi abu setiap malam. Tapi—sialan!—kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.

Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium. Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan—