Wajahmu Berpuisi

namun jiwamu, hina.

Maybe it was the weather, that made me feel so uncared for. Maybe it was how I miss your bed, and the both of us in it. Maybe it was because I miss who I thought you were, and who I thought you could be for me. Maybe it was the lost opportunity to be together.


Aku menemukan fotomu di folder film ke sembilan dan sepuluhku. Fotomu yang kubanggakan ke diriku-sendiri karena hasil bagusnya yang tidak kuharapkan. Sedikit lega memiliki foto itu. Rasanya bagaikan memiliki sebuah bukti bahwa kamu pernah “bersamaku” —no matter how fleeting the entanglements of the encounter were. Karena aku terlalu mudah melupakan dan hanya mengingat dengan tiba-tiba dalam serpihan waktu, aku tidak pernah berani menghapus bekas dan bukti keberadaanmu dari hidupku. Sebegitunya peduli aku tentang pernah adanya kamu. Padahal, aku tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikanmu. Banyak wajah lain yang ku perhatikan di hari itu. Wajahmu bukanlah satu satunya.

Padahal, all I did was play along. 

Penasaran dengan apa yang kau inginkan dari aku dan dengan apa yang kau bisa berikan kepadaku, aku mengikuti irama kekonyolanmu. Hanya untuk mempelajari nantinya bahwa aku seharusnya mengabaikanmu saja. Lagi-lagi, sebuah insignifikan. Mereka yang datang hanya untuk melupakan orang lain yang dulunya tinggal di dalam mereka. Agak kesal. Menjadi sebuah medium. Seakan aku bukan seseorang yang bisa untuk mereka – seakan aku hanyalah tubuh yang sementara.

Alhasil, fotomu yang kubanggakan ini sekarang hidup dan tinggal didalam dua folder film ku. Mereka hidup dan tinggal sebagai sebuah penyelamat sekaligus kutukan bagiku. Kutukan karena dengan foto ini, aku harus ingat akan adanya seseorang sepertimu: seorang pengecut dengan mata yang dapat membuatku lupa akan wajah orang lain tetapi sayangnya hanya mementingkan diri sendiri.

Walau aku tahu bahwa dunia dan seisinya memang tidak pernah diciptakan untuk adil, dalam hal memberi dan dalam mengambil, aku masih heran. Untuk alasan apa dunia mempertemukanku denganmu? Untuk apa ia memberikanku seseorang yang hanya akan ku ingin lupakan dan sakiti jika semesta disisiku? Kehadiranmu hanyalah membuatku jauh lebih tersakiti —aku tidak butuh sesuatu seperti itu. Akan kuingat pertemuan kami sebagai sebuah pelajaran bahwa manusia bisa sekejam itu. Akan kuingat kamu sebagai seseorang yang hanya menghabiskan tempat di dadaku.

Selagi di Paris bulan September kemarin, aku membaca puisi M. Aan Mansyur dan tidak bisa tidak mengingatmu. Ku harap puisi ini suatu hari akan sampai kepadamu. Dan jika waktu dimana kau membacanya akan datang, abaikanlah kata cinta. Karena ini bukan cerita tentangnya.

SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

11.
“tidak ada yang pernah sungguh sanggup
meninggalkan orang yang ia cintai. kau
selalu bebas untuk pergi dan sebab itu
kau memilih tidak ke mana-mana. kita

jadi kekosongan dalam diri orang lain
dan tidak ada yang tahu cara mengisinya
kembali. aku tahu

warna harapan. seperti matamu ketika kau
putus asa tidak bisa menahan aku pergi. tapi

kau tahu, setiap orang keluar dari rumah
sebagai pemancing dan pulang membawa
diri baru yang mudah terpancing.

tidak ada kejujuran. orang-orang tidak suka
kebenaran. mereka lebih senang jatuh cinta
kepada hal-hal ringan dan mudah terbakar.

kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan

kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku

merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s