Mendengar Namamu

teruntuk seseorang di negara dingin

Aku penasaran.
Were we ever meant for each other?

My lasting infatuation of you stays here,
imprinted within my heart. For many years
I have sacrificed not loving
because I thought I was for you.

But,
were we ever meant for each other?

Does my writing letters of you
and my praying for you mean
that we’ll end up together?

I never come across your mind as a lover now, do I?
Yet, why is it that I’d still choose you and none other?

No matter how far, why is it
that I’m able to convince myself,
still, that you are for me?

img_8495
Mengunjungi Jogja untuk tiga malam

Padahal,
bertemu denganmu saja jarang;
sedikit kesempatan untuk berbincang.
Namun, mengapa aku sangat yakin?

Kamu tahu? Namamu adalah sebuah kata
yang terlanjur rumah bagiku;
dimana namaku tidak bisa
ditemukan di kamusmu.

Aku akan jujur, aku sudah lelah memikirkanmu.
Sudah cukup waktu yang kuhabiskan menunggumu.
Aku ingin mencoba mengenal orang lain,
untuk melupakan “what could have been”.

000016
Jogja – Olympus Superzoom 70G, roll film: Kodak Gold 200

Tidak sulit melupakanmu.
Tidak sulit pula mengabaikan
penasaranku atas kabarmu.

Namun,
setiap namamu disebut,
sedikit demi sedikit,
kamu kembali.

Mengapa harus begini?
Tidakkah cukup, waktu yang
telah ku sia-siakan untukmu?

Berhentilah menghantuiku
agar aku bisa melepaskanmu.

Dan itu lebih baik, bukan?

2 thoughts on “Mendengar Namamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s