Honey

Keywords: post-midterms, clumsy, morning coffee, returning to film, honey, birthdays, drowsy —rest, baby.


Within numbered days, I will soon turn 20. But I’ve never liked the number 20. I’ve always instead, since the day I fell in love with a boy in 6th grade whose birthday I thought was on the 19th of August, liked the number 19. As evident from my primary email addressAnd in my turning 19, I had begged God to make it my most endearing tragedy. Tragedy in the way that it teaches me to be kinder and more forgiving only. And I was met with very endearing tragedies, you see.

Bukan Untukmu

Medice, cura te ipsum.

Aku ingin menjadi rumahmu. Tempat kembali dan tempat yang kan kau rindu. Aku ingin ingin kau menatap mataku dan tidak berpaling –seluruh kekhawatiranmu membungkam dan runtuh.

Aku akan menunggu —sampai kapan? Aku tidak tahu— untuk memberimu kehangatan: menghapus kelelahan melewati pelukan. Juga ciumanku, sebuah kutukan yang tak henti menghantui pikiranmu.

Aku butuh kehadiranmu di sela sela waktu yang disisakan oleh jariku. Aku ingin menemukanmu menunggu untuk ditubuhi dan dikasihi.

Bisakah?

Singgah untuk Pergi

Terkadang aku merasa berdosa karena telah menggenggam dan membolehkan seseorang yang tidak ku cinta untuk bersama denganku. Bertemu untuk mendekapnya hanya karena aku sedang ingin melupakan kehiruk-pikuknya dunia. Tidak ada alasan. Memang aku yang kurang ajar. Jika memungkinkan, aku ingin ia mengabaikanku: berhentilah menemaniku karena apapun yang aku sentuh akan berubah dan tersakiti.

Dan jika bukan kamu, aku.


SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

16.
“kau singgah. seluruh penjuru
adalah persimpangan. mengarah
ke tiada—yang banyak.

kau tahu kau mencari seseorang
tapi kau tidak tahu siapa. kau berharap:
ia mencari dan kelak menemukan aku.

kau ingin sendiri. tapi kau tidak sanggup.
kita lahir bersama kesedihan orang-orang
yang berbahagia sebelum kita.

kini tidak ada yang sungguh. kau tidak
utuh. kau tidak cukup dan kau

lebih”

000026
Taman Sari, Yogyakarta – August 2019 / Olympus Superzoom x Kodak Gold

Kita berdua memiliki ruang di hati untuk orang yang berbeda: orang yang lebih pantas dan cocok akan kekonyolan yang kita miliki. Walau orang bisa berubah (seperti yang kamu bilang) dan cinta seharusnya tidak mendiskriminasi, kita bisa memilih. Dan aku memilih untuk tidak mencintaimu. Atas dasar aku tidak bisa menerimamu, atas dasar kamu bukan rumahku, atas dasar aku menghargaimu sebagai teman lebih dari apapun. Sekian.

Rumah yang Menghilang

auribus teneo lupum.

Writing about this semester from the beginning would only be a gravely fault, for that is where the story of you lies: the most endearing tragedy I have ever met in a person – proof that my curiosity can indeed lead me to my own deaths. I have written and thought about you more than enough to make me feel incredibly tired of remembering your chronology in mine, so please, allow me to skip your part.


DI DEKAT JENDELA PESAWAT TERBANG
—M. Aan Mansyur

Aku ingin menulis surat. Meminta maaf atas nama cermin dan kaca jendela, langit dan cahaya, juga segala yang tidak percaya kepada matamu pada pagi hari. Selamat pagi. Apa kabar? Kenyataan ialah api yang berkobar di antara dadamu dan inginku. Atau segala apa yang berkibar di antara anganmu dan tanganku. Di tempat sejauh dan sedekat ini, tidak ada yang nyata melebihi hal-hal yang kabur dan mustahil disentuh. Apakah aku tidur di mimpimu?

Mencintai ialah menenggelamkan diri ke dalam lautan hal kecil yang memiliki kekuatan besar membuatku bersedih. Setiap waktu. Atau—aku takut kedalaman, kau tahu—menyaksikan hamparan hutan dari udara dan menyadari seluruh yang tampak hijau adalah kepedihan. Aku curiga pesawat ini sengaja diciptakan sebagai cara lain memusnahkan manusia dari bumi.

Rumah terakhir bagi seorang yang kucintai ialah ingatan. Memiliki kehilangan: bukti aku tidak berhenti mencintaimu. Apakah kau akan berdiri di depan pintu saat aku tiba, seperti biasa, merentangkan sepasang lengan yang selalu berharap ditubuhi?

8F5274C2-1887-494A-B621-E89ABA485808
“Returning home” – Paris, September 2018 / Olympus Superzoom with Kodak T-Max 100

I used to think that the human heart could only endure so much and that there was a limit to how overwhelming an event could be. When August began, I was excited and hopeful to see how things would unravel from here on out; with the introduction of you, of visiting new places, and of meeting new people. Little did I know that nothing of the past could have prepared me for the fourth semester. I was only lucky enough to know that subjects were quiet easy this time around, though class schedules were awfully put together – as if a child had overtaken the task. Still, despite everything that has happened, I am still here.

In the early of September and December, I was taught through very heart-wrenching events that I had missed home. Home to me here is not some windowed walls or a sheltering roof that had been carefully architected for shelter and rest. That is a house. Home is a feeling from a place or a person: tempat kembali dan tempat yang kan kau rindu. Home is where I feel safe and calm, where each corner of a person’s eyes, or lips, or fingertips encompasses me with warmth and kindness; where every scent and fabric of the belongings of a room envelopes me away from the riddles of the world with comfort. Home can come from friends, families, or lovers. It can also be from restaurants or poolsides. Some may have them from childhood, which I too had had but lost along the way when I was leaving Oman; and some may find them in a person that they have fallen for, which I did however wrongly.

When the flight to Germany took me and my friends away from Indonesia, the afternoon you decided that I shouldn’t matter, maka dari itu kamu menghilang, the air in my chest felt as though it had vanished. I didn’t know when you began becoming my home, but the loss of your presence made me realise then that you were. How someone as broken and as stained as you struck to me as home in a mere few weeks leaves me baffled until now. The same way I don’t get to choose how other people feel about me, however, I don’t get to choose how I feel about you too. Dan pada akhirnya,

rumah pun menghilang.

19DE411A-E07F-40C8-ACFC-11870BB8FFFD
“Kembalilah kepadaku, cinta” – Paris, September 2018 / Olympus Superzoom with Kodak T-Max 100

I had thought losing you —and I say this as though I ever had you, no I didn’t— was enough of a hurting that would last me quiet some time. Before I even managed to heal these open wounds, which had aggravated with you coming back only to use me once more, December came along. And that first Friday of December is a memory I’m not fond of: a heightened state of disappointment and hopelessness of which I had to undergo because someone who I thought should accept me, or at least listen to me sympathetically, didn’t do so at all.

It may sound insignificant, but to me it had meant the world. You see, I don’t care enough about what other people think about me. I made the decision not to a long time ago after learning how damaging it was to one’s self in doing so. But the people of whom I’ve dedicated my entire life to, my parents, I couldn’t not care. So imagine how it would feel to know that the sufferings that you have gone through in the pursuit of obeying their demands didn’t matter at all. Dan pada akhirnya,

rumah pun menghilang.


SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

12.
“kenangan dan harapan, kata satu
penyair, dua negara yang tidak ada
di peta. kubawa keduanya ke mana-mana

dan ingatan: paspor yang selalu minta
diperbarui.

dalam diriku: membentang jarak kedua
negara itu. dari sana hidup melimpahkan
sepi. di puisi ini kusimpan separuh untukmu

sebagai langit yang tidak tahu berubah warna
atau jendela atau buku cerita yang menghapus
kata-kata sendiri atau rumah tanpa penghuni.
kelak kau menginginkan

sepi melebihi apa pun, ketika tidak mampu
kautemukan dirimu di mana-mana. dan akan

kau paham hidup adalah upaya menerima
ketidaksanggupan dan menolak keinginan

supaya langit atau jendela buku rumah itu
melumpuhkan kau dengan sepi yang lebih
berat daripada ketanpaan”


I find it rather surprising (in a good way, some may say) that despite everything, I am still here. And this, even I cannot fathom. I had every reason to leave, which I did want to do, and considering my reckless character and determination once it is born, I could do so very easily if I wished. But entah, I simply didn’t take the chance. This story isn’t fiction, and in truth I do not possess an answer as to why I chose to persevere instead. I had no one I loved and nothing I strongly desired for. Yet, I am still here.

Perhaps it isn’t the bigger of reasons that made me stay. Perhaps it had simply been the small things; a certain word a person used to describe me when they heard of this story –“you are strong, in a lot of ways. I admire that in you”, a certain place I only kinda want to visit someday –Labuan Bajo, a cute barista in a cafe I frequently go to –hello Old Ben’s, a particular dress I wish to purchase from Mango, and a certain feeling I wish to find again –home.

Now that this has become a very old story, I wanted to say thank you.

Thank you for all the hurting, and the sad, pathetic, melancholic remembrance of the times that we were together peacefully —no matter how fleeting the encounters were. I am grateful. Really. Grateful to have met a horrible person who showed me how evil and selfish a person could be, who showed me that I am indeed kinder than another person I thought to be so wonderful of, and “good” in spite of how horrible I think of myself.

Sekarang, izinkan aku untuk melupakanmu.

Langit yang Basah

Sakit. Aku jatuh sakit semenjak terakhir kali bertemu denganmu. 13 hari mendekati dua minggu. Tidak ada kabar. Aku tidak berani menyentuhmu kembali. Aku yakin –atau telah diyakinkan– bahwa kamu hanya menjadikanku permainan.

And yet,

aku jatuh dan belum sanggup berdiri lagi.
Aku mencintaimu maka dari itu aku akan membiarkanmu pergi.


CIUMAN PERPISAHAN
—M. Aan Mansyur

Tubuhmu pokok pohon paling kuat di hutan. Pohon paling wangi; dahan dan daun-daunmu pelangi. Aku ingin memanjat dan menjatuhkan diri sekali—dan lagi dan lagi. Sepasang matamu buah-buahan, menyihirku jadi bintang padam dan binatang yang melolong siang-malam.

Kau bisa putus mencintaiku. Tiba-tiba. Kau tidak butuh alasan selain kau mampu melakukannya. Dan, kenapa tidak. Kau bisa pergi. Begitu saja. Aku segelas air tumpah di lantai dan aku tidak bisa jadi lap bagai diri sendiri.

Ciuman itu. Ciuman itu. Aku terbakar jadi abu setiap malam. Tapi—sialan!—kau selalu mampu menyusun tubuhku lagi sebelum pagi.

Aku mencintaimu melebihi tulang mencintai sumsum dan kalsium. Ciuman terakhir itu, bahkan memandang bibir lain ialah melakukan pengkhianatan—

 

Wajahmu Berpuisi

namun jiwamu, hina.

Maybe it was the weather, that made me feel so uncared for. Maybe it was how I miss your bed, and the both of us in it. Maybe it was because I miss who I thought you were, and who I thought you could be for me. Maybe it was the lost opportunity to be together.


Aku menemukan fotomu di folder film ke sembilan dan sepuluhku. Fotomu yang kubanggakan ke diriku-sendiri karena hasil bagusnya yang tidak kuharapkan. Sedikit lega memiliki foto itu. Rasanya bagaikan memiliki sebuah bukti bahwa kamu pernah “bersamaku” —no matter how fleeting the entanglements of the encounter were. Karena aku terlalu mudah melupakan dan hanya mengingat dengan tiba-tiba dalam serpihan waktu, aku tidak pernah berani menghapus bekas dan bukti keberadaanmu dari hidupku. Sebegitunya peduli aku tentang pernah adanya kamu. Padahal, aku tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikanmu. Banyak wajah lain yang ku perhatikan di hari itu. Wajahmu bukanlah satu satunya.

Padahal, all I did was play along. 

Penasaran dengan apa yang kau inginkan dari aku dan dengan apa yang kau bisa berikan kepadaku, aku mengikuti irama kekonyolanmu. Hanya untuk mempelajari nantinya bahwa aku seharusnya mengabaikanmu saja. Lagi-lagi, sebuah insignifikan. Mereka yang datang hanya untuk melupakan orang lain yang dulunya tinggal di dalam mereka. Agak kesal. Menjadi sebuah medium. Seakan aku bukan seseorang yang bisa untuk mereka – seakan aku hanyalah tubuh yang sementara.

Alhasil, fotomu yang kubanggakan ini sekarang hidup dan tinggal didalam dua folder film ku. Mereka hidup dan tinggal sebagai sebuah penyelamat sekaligus kutukan bagiku. Kutukan karena dengan foto ini, aku harus ingat akan adanya seseorang sepertimu: seorang pengecut dengan mata yang dapat membuatku lupa akan wajah orang lain tetapi sayangnya hanya mementingkan diri sendiri.

Walau aku tahu bahwa dunia dan seisinya memang tidak pernah diciptakan untuk adil, dalam hal memberi dan dalam mengambil, aku masih heran. Untuk alasan apa dunia mempertemukanku denganmu? Untuk apa ia memberikanku seseorang yang hanya akan ku ingin lupakan dan sakiti jika semesta disisiku? Kehadiranmu hanyalah membuatku jauh lebih tersakiti —aku tidak butuh sesuatu seperti itu. Akan kuingat pertemuan kami sebagai sebuah pelajaran bahwa manusia bisa sekejam itu. Akan kuingat kamu sebagai seseorang yang hanya menghabiskan tempat di dadaku.

Selagi di Paris bulan September kemarin, aku membaca puisi M. Aan Mansyur dan tidak bisa tidak mengingatmu. Ku harap puisi ini suatu hari akan sampai kepadamu. Dan jika waktu dimana kau membacanya akan datang, abaikanlah kata cinta. Karena ini bukan cerita tentangnya.

SEBELUM SENDIRI
—M. Aan Mansyur

11.
“tidak ada yang pernah sungguh sanggup
meninggalkan orang yang ia cintai. kau
selalu bebas untuk pergi dan sebab itu
kau memilih tidak ke mana-mana. kita

jadi kekosongan dalam diri orang lain
dan tidak ada yang tahu cara mengisinya
kembali. aku tahu

warna harapan. seperti matamu ketika kau
putus asa tidak bisa menahan aku pergi. tapi

kau tahu, setiap orang keluar dari rumah
sebagai pemancing dan pulang membawa
diri baru yang mudah terpancing.

tidak ada kejujuran. orang-orang tidak suka
kebenaran. mereka lebih senang jatuh cinta
kepada hal-hal ringan dan mudah terbakar.

kau kata-kata yang takut aku tulis. kalimat
yang menggigit lidahku. aku ingin jadi alasan

kau tersenyum ketika berdiri di puncak
kesedihan. hasrat yang sama membunuhku
dengan cara berbeda setiap malam. aku

merasa lebih sebagai diri yang kupikirkan
daripada diriku sendiri. aku lebih butuh
merasakan daripada melihat
atau menyentuh”